Friday, 12 August 2011

China ohh China


Entah karena apa saya dapat tugas dari kantor untuk bekerja di China selama sebulan. Aihhh….padahal saya masih bau (terlalu) kencur dalam masalah pekerjaan dan saya benar” ga bisa yang namanya bahasa China sama sekali. Dasar senang berpetualang saya si senang” aja dikirim ke China apalagi semua akomodasi dah ditanggung ma perusahaan (enak toh…)

Bermodalkan Foto ala kadar dengan background merah, visa saya pun jadi untuk masuk ke China. Hari H pun tiba, dengan semangat yang ga terlalu besar (karena katanya disana kerjaannya susah dan parahnya lagi “saya belum bisa dan belum pernah”) saya pun meninggalkan Indonesia. 4-5 jam penerbangan yang melelahkan akhirnya selesai juga (entah kenapa saya benci yang namanya naik pesaawat, kereta, or bis berlama”. Kaya di kurung dikandang aja soalnya ga bisa kemana”). Setelah sampai di bandara Shenzhen, aihhh gedenya ni bandara, sampai saya kaya orang kampung yang baru pertama kali naik pesawat saking takjubnya. Setelah semua urusan imigrasi dan nunggu luggage kelar, saya pun sudah dijemput oleh boss saya, wuihhh perasaan seperti orang penting aja saat itu (yaiyalah, saya yakin klo ga ada yg jemput pasti saya bakal kaya orang gila dibandara secara ga bisa ngemeng bhs cina).

Sekilas lalu lintas disana semua tampak sama dengan semrawut lalu lintas kota Jakarta. Karena saat itu badan rasanya capek dan laper, mending saya tidur aja di dalam bis menuju tempat tinggal (aje gila masih 1 jam naik bis, ternyata). Akhirnya saya pun tiba, dan dengan baiknya boss saya menawarkan makan malam (klo ga nawarin saya juga pasti minta, hehehe). Yahh bagusssss, semua daftar menu memakai huruf kanji tanpa ada fotonya, auu….mana pelayannya ga bisa berbahasa inggris, dungdeng….akhirnya saya ngikut pesanan boss saya yang udah lebih fasih hidup disana. Penderitaan saya ternyata belum berhenti disitu, saya lupa budaya makan disini menggunakan sumpit dan sama sekali ga ada yang namanya sendok atau garpu. Padahal laper tingkat tinggi, dan saya harus makan nasi menggunakan “sumpit” hayahh,,,bener” di uji kesabaran saya disini. Sampai” teman saya bela”in bawa sedok kemana-mana karena dia tidak bisa makan pakai sumpit. Menurut saya budaya memakai sumpit disana tidak terlalu bagus, kenapa saya bisa bilang begitu, karena sumpit disana didesign hanya sekali pakai dan buang. Bayangin berapa kali orang makan sehari dikali berapa banyak orang China disana dan akibatnya berapa banyak pohon yang ditebang hanya untuk membuat sumpit aja.

Hari pertama saya disini saya laluin hanya dengan istirahat panjang, setelah itu…woww China jauh dari yang saya bayangkan. Orang” disini juoroknyaaa ampun, seperti pada pagi hari mereka menunggu bis di halte dengan tangan kanan penuh bungkus makanan sedangkan tangan kiri memegang cemilan yang sedang dimakan dan dengan santainya mereka buang riak yang dari suaranya seperti membuat tenggorokan lecet,,,huaaakkkkssssss….dan selanjutnya cuhhhhhh riak dibuang di pinggir jalan tanpa dosa dan itu hampir semua dilakukan oleh kaum pria. Belum lagi klo saya selift pada pagi hari, banyak dari mereka ga mandi dan bau badannya….wihhhh, bau bawang putih nyengatttttnyaaa ga tahannnn

Belum lagi masalah mencari makanan disini, berhubung saya banyak menghabiskan waktu bersama teman saya yang kebetulan dia muslim dan saya tidak bisa makan B1 dan B2 (red anjing dan Babi) makanya mencari makan adalah hal tersulit selama saya disana. Untungnya ada restoran muslim disana yahh tetapi semua restoran muslim pada umumnya menjual mie yang masih benar” fresh . buat 1-2 hari si ga masalah, tapi klo sebulan makan itu trus yahhh pasti muakk, sampai” saya minta ajarin tulisan kanji yang artinya “sapi”, “Babi”, “anjing”, “ayam”, dan tulisan itu saya bawa kemana” dan ketika memesan makanan saya tinggal mencocokan yang ada dikertas contekan saya dengan yang ada dimenu. Kelihatannya si gampang, eh pas nyocokin buset ko keliatan sama semua….akhirnya bahasa tarzan pun keluar, dan hebatnya lagi dia ga ngerti bahasa tarzan….huaaaaa…..demi alasan perut, kami pun klo makan pasti kaya anak sd dulu saat memesan, ya kami menggambar ayam atau sapi setelah itu pasti para pelayan baru ngerti.

Ada satu kejadian yang saat itu membuat saya benar” ga berkutik sama sekali, pas saya jalan” dan naik bis menuju arah pulang, kondektur menghampiri saya dan bertanya (saya yakin dia bertanya, mau turun dimana?) bodohnya saya saat itu adalah saya ga tahu nama haltenya, yang saya tahu cuma dekat dengan suatu mall. Saya pun memberi uang 10 Yuan dan ngomong dalam bahasa inggris saya turun di mall A. Kondektur pun bingung saat saya ngomong itu, dan dia ngerocos aja gitu pake bahasa China yang itonasinya naik turun ke depan muka saya. Saya pun benar” bukan bingung lagi saat itu, antara deg”an dimarahin (saya ga bisa bedain mana orang marah, mana orang ngomong biasa. Karena itonasi mereka bener” aneh) atau ditanya apa? Dan parahnya lagi satu bis pun ga ada yang bisa bahasa inggris…huaaahhh akhirnya saya main pantomin di bus, dengan meragakan sebuah bangunan dan saya turun disitu, setelah 5 menit saya memperagakan akhirnya dia bisa menebak juga…wuahh benar” kaya main kuis aja saat itu. Dan saya pun dikasih kembalian 5 Yuan, sambil tanpa dosanya dia ngerocos ga karuan lagi didepan muka saya (padahal dia dah tahu saya ga bisa bahasa China, tapi ttp aja ngecoros). Dalam hati saya mending ga usah dikembaliin aja uang saya, daripada saya udah merendahkan diri ditontonin orang sebus main pantomin.

Yah, itulah sedikit pengalaman saya berpetualang di Daratan China. Banyak senang dan dukanya, tapi satu hal yang saya bisa banggakan adalah, ternyata saya masih bisa hidup disana walaupun susah payah adaptasi (lebay banget). Saya pun berkeinginan untuk pergi lagi kesana (Beijing) dan bermain pantomin kembali dengan orang” China.


almasdeo
Jakarta (Indonesia)12.08.2011

Thursday, 11 August 2011

Ketika Rasa adalah Segalanya


Lingkungan adalah factor penting dalam perkembangan dan pembentukan karakter suatu manusia termasuk dalam hal lidah (cita rasa). Yap lidah, setiap orang dari negara (bahkan pulau di Indonesia) manapun pasti mempunyai cita rasa yang berbeda-beda.

Ketika saya pergi keluar kota bahkan keluar negeri, hal yang paling menakutkan adalah masalah makanan. “cocok ga ya ma lidah gw?”  itulah hal pertama yang terpikir di otak ini. Kaya pas saya pergi ke lombok dan daerah timur sana, wuedann makanan di sana ga ada yang menenangkan lidah sama sekali, yang terasa dilidah cuma pedas-panas-pedes-panas lagi dan itu berulang-ulang terjadi hingga makanan habis. Secara lidah saya didikan lidah jawa yang lebih bersahabat dengan rasa manis, jadi waktu kesana saya tidak bisa menikmati makanan khas daerah sana. Belum lagi klo abis makan masakan pedas, perut langsung mengalami “gejolak” yg bertahan minimal 1 hari. Kebayang kan klo lagi jalan” tiba” langsung mules ga karuan perut. Klo pas dekat toilet si enak, nah klo pas di tengah macet...yang ada keringetan dan posisi duduk yang berubah” menahan boker. Beruntung klo masih bisa nahan, klo ga?? Ya siap lah membuat malu diri sendiri.

Berbekal pengetahuan di Indonesia bahwa Chinese Food itu kaya Capcay, Fuyung Hai, dll, Sehingga pas saya ke China saya pastinya bermimpi “di Indonesia aja capcay enak apalagi dinegara asalnya”, huaaaa….mimpi hanya sekedar mimpi, ketika pertama kali menginjakan kaki didaratan China dan saya mencari makan, aduhhh apa ini menunya?? Semua dalam bahasa Kanji yang bener” saya ga ngerti dan parahnya ga ada potonya. Karena saya tidak mau asal tebak (takut kepilih anjing or babi) saya pun memilih makan ikan, untungnya didepan restorannya ada ikan, jadi saya tinggal nunjuk aja mau ini. 5 menit makanan keluar, dan tembak, wuihh dari penampilannya aja udah buat kenyang. Ternyata ikan itu dibuat seperti soup tapi parahnya kuah ikan tersebut wuihhh pull minyak. Yaks…tiba” langsung kenyang saat itu juga.

Saya pun bertanya kepada teman saya orang Indonesia yang sudah lama tinggal disana, om ajak aku makan capcay atau kaya Chinese food yang ada di Indonesia dong, dengan entengnya dia menjawab, Capcay itu made in Indonesia, jadi disini tu ga ada. Whattt?? Ya klo masakan China asli ya kaya yg kamu makan, hiks..hikss…sedihnya, belum lagi di setiap restoran pinggir jalan Anjing or Babi yang udah dikulitin di pajang gitu aja dietalasenya (masih lengkap dengan terpedonya lagi) bener” bikin nafsu makan saya turun drastis sebulan disana. Oh ya, ini juga bisa buat cara diet yang mujarab lo…silakan coba bagi yang masih mencari cara diet paling ampuh

Beda lagi ketika saya hidup di Australia, di negara ini bagi lidah saya ga terlalu bermasalah. Tapi cuma masalah kuantitas, ya bayangin aja dari kecil pas sarapan kita pasti makan nasi atau minimal Indomie deh. Eh di sana cuma makan roti doang, mana ampuh roti tawar 2 buat menjinakan cacing diperut saya selama 4 jam kedepan, alhasil saya pasti bawa buah”an or camilan buat menganjel. Tapi setelah jalan setahun tinggal disana, saya sudah sangat terbiasa makan roti dan hebatnya saya tidak merasa laper yang mengila kaya pertama kali dahulu. Tapi yang paling susah di sana adalah ketika merasa laper tengah malam, wuihhh yang ada cuma Mcdonald dan sejenisnya yg buka 24 jam, yahhh lagi” saya tidak terlalu suka makanan fast food, klo udah begini mending toasted roti dan berusaha tidur aja.

Bagaimana pun, Indonesia bagi lidah saya benar” is the best lah, semua makanan disini beraneka ragam dan bener” mempunyai cita rasa yang amat sangat tinggi.

Dengan bepergian saya makin mulai mencintai negara saya dari segala sudut pandang.

almasdeo
Jakarta (Indonesia) 11.08.2011


 

Monday, 1 August 2011

Ketika Nasionalisme berbicara

Memang susah klo membandingkan sesuatu tetapi yang membandingkan berpihak pada satu pihak saja (agak susah ya kata”nya??). Ya setelah saya "berwisata” ke negara Asean, saya sempet takjub dan bingung terhadap apa yang saya lihat. Saya ambil contoh aja Bangkok, klo saya bandingkan dengan Jakarta ya hampir 11-12 (macetnya sama, kumuhnya parah dia, para penipu juga banyak cuma mungkin satu kalahnya, Bangkok ada monorel dan Jakarta tidak) tapi entah kenapa di sana yang namanya turis asing sepertinya banyak aja, berbeda dengan Jakarta yang mungkin hanya terpusat di jalan Jaksa (dan itu mungkin cm 5% dr Bangkok), dan parahnya lagi pasti klo turis di tanya tentang Bangkok jawabnya yg mengalir “I LOVE BANGKOK”. Coba klo di tanya tentang Jakarta, hampir semua org yg pernah saya temui dalam perjalanan pasti menjawabnya “I HAVE NEVER BEEN COME TO JAKARTA”. Dungdeng……malu”in aja nanya kaya gitu, tapi beruntung lah Indonesia punya orang seperti saya (pede abisss..) yang masih rada mempunyai Jiwa Nasionalis (masih mau memperkenalkan Indonesia) dibanding dengan para anggota MPR-DPR yang hanya bangga duduk manis sambil tertidur di kantor berbalut baju batik dan menunggu gaji bulanan serta hanya memikirkan bagaimana menghabiskan anggaran negara buat kesenangan mereka (maaf klo ada yg tersindir, tapi ini emang apa adanya)

Klo di pikir” (sebenarnya ga usah dipikir) kalah apa negara kita ini, semua ada disini. Negara yang kaya akan budaya dan masih banyak menganut tradisi” sacral yang klo di negara sebelah laku “dijual” untuk pariwisata, kenapa kita ga bisa??
Lagipula peninggalan sejarah kita cukup banyak dan berumur tua, pantai” yang indah dan matahari yang bersinar sepanjang tahun cukup sebagai “undangan” bagi para turis” asing untuk berwisata dinegara kita. Mungkin klo di Bali ga usah di tanya lagi ya, keindahan di pulau tersebut. Tapi Indonesia masih banyak menyimpan daerah wisata yang masih belum terjamah abis untuk dikunjugi. Sejenak terpikir kemanakah menteri Pariwisata kita??? Apakah sedang “berwisata” (study banding) ke negara” maju buat pembelajaran membuat Indonesia lebih maju? Ya, saya hanya mendoakan (karena cuma ini yg bisa saya lakukan) ketika para pejabat” negara pulang dari pelisir, mereka “BENER-BENER” bawa oleh-oleh yang bisa membuat negara Indonesia lebih maju di dunia pariwisatanya.

Mungkin (mungkin lo…) pemerintah kita masih sibuk mengurusi problematika politik” yang terus bermunculan disini. Tapi sedikit kah mereka berpikir berapa banyak devisa yang dihasilkan bila negara kita menjadi daerah tujuan wisata para turis asing??

Whatever, mengkritisi memang lebih mudah dibanding melakukannya hahahaha........ 


“Suara hati warga negara Indonesia yang agak sedih terhadap negaranya, tetapi masih optimis akan kemajuan negaranya”


almasdeo
Bangkok (Thailand) 02.08.2011

Senang dan susahnya pergi bersama keluarga


Karena ada event kakak saya married, maka keluarga besar saya pada kumpul semua di Jakarta. Mungkin udah pada tahu saya tukang jalan, makanya beberapa keponakan saya merengkek ke bapak ibunya untuk minta jalan” ke luar negeri, alasan pertamanya si pingin liat “gimana” si luar negeri dan membuat “tanda” pertama kalinya di pasportnya….lagi” saya yang ketiban sial buat nganterin mereka keliling asia. Mau nolak susah (ga enak banget), klo nganterin udah kebayang ribet pastinya bawa beberapa orang yang masih “turis” abiss...Ya, padahal semua negara yang di tuju udah semua saya kunjungi, jadi perjalanan saya kali ini saya akui kurang greget abis.

Pertama si yang ikut ada 4 orang bersama saya, eh tiba” keponakan cewek (jujur saya ga tahu bedanya keponakan sama sepupu) minta ikut juga (ya lumayan jadi ada teman yang seumuran), jadi 5 orang fix yg ikut “tour” kali ini. Yup betul, perkiraan saya bener” terjadi, semua baju masuk ke keril saya dan saya yg manggul belum lagi saya jadi public speaking and tour guidenya….kebayang toh ribetnnya 

Susahnya paling dasar saat jalan dengan beberapa kepala adalah “toleransi” antar kepala. Satu orang maunya seperti ini, satunya lagi itu yang lain apa lagi…aihhh puyeng sendiri jadinya. Paling susah pada perjalanan kemarin adalah memutuskan untuk makan. Hayahhh…..keponakan saya masih bener” lidah INDONESIA banget, mereka ga bisa makan klo rasanya mulai aneh. Huayahhh…ribetnya menentukan makanan klo udah jam makan…buat esmosi padahal dah laperr, belum lagi klo saya jalan ga bisa lelet, dan karena jiwa mereka masih “turis” jadinya setiap ada yg aneh atau unik mereka spend waktu yang lama di sana karena takjub dan untuk foto”…

Ahhhhh dari tadi cerita yang susahnya trus, sekarang cerita senangnya pergi bersama keluarga biar adil. Tidak lain tidak bukan adalah terjaminnya hidup selama jalan”. Saya ga susah mikir bagaimana me-manage uang untuk makan, jalan atau lainnya karena saya serasa bawa atm berjalan di samping saya.hahahaha…..senangnya, dengan pura” mau ngeluarin duit pasti langsung di samber bude ku dan bilang “Udah pakai duit ini aja” lumayan, safe money lagi…

Yah, setidaknya keponakan saya udah pada tahu caranya jalan”  ke luar negeri, jadi kedepannya mereka bisa jalan” sendiri. Dan yang membuat saya iri kepada mereka adalah, sponsor jalan” mereka (red Bapak-Ibunya) sepertinya unlimited access….sedangkan saya harus bekerja keras dulu 
Dan yang buat saya salut kepada mereka adalah, mereka ternyata jago baca Peta daripada saya….



almasdeo
Jakarta (Indonesia) 02.08.2011

Sunday, 26 June 2011

Ketika Bangku kuliah memanggil (lagi)

Mungkin hanya orang bodoh (red saya) yang memilih untuk resign dari kerjaan yang menurut banyak orang udah enak. Coba bayangin (cukup bayangin) kerja diluar negeri (beda lo ma TKI yg di siksa ma majikan), dapat gaji gede (mungkin 5-6 kali gaji standart Indonesia), dapat fasilitas yang komplit dan yang enak dapat libur 1 bulan full setelah 4 bulan kerja (tiket pesawat PP udah di tanggung perusahaan). wuihhh pasti setiap orang mendambakan kerja kaya begitu pastinya.

Memang pola pikir saya yang sedikit agak nyeleweng dari pada pola pikir orang pada umumnya, entah kenapa saya pingin balik ke bangku kuliah, padahal pada akhirnya yang dicari setelah kuliah adalah kerja juga toh? klo menurut cara pandang saya, kuliah tidak sekedar mencari gelar atau mencari posisi yang lebih  bagus nantinya di suatu perusahaan tetapi saya lebih cenderung ingin menambah wawasan dan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Dalam pemikiran saya saat ini, yang sifatnya kekal (dibawa sampai tua bahkan mati) hanya 2 hal, yang pertama adalah ilmu pengetahuan dan wawasan yang kita miliki dan yang kedua adalah tato :)
Memang wawasan dan ilmu pengetahuan ga selamanya di dapat dipendidikan formal tetapi dari pengalaman kita pun dapat menambah wawasan. Tapi pasti klo kita dapat pendidikan formal juga saya yakin pasti ilmunya bakal komplit :).

Sekarang adalah musim (buah kali) penerimaan mahasiswa baru di hampir semua kampus di Indonesia, ini adalah tahun kedua bangku kuliah memanggil saya untuk kembali mempertimbangkan dia masuk dalam kehidupan saya. Saya pun sudah mempertimbangkan, dan menurut saya ini adalah waktunya saya masuk kembali kedalam dunia perkuliahan, semoga saya mendapatkan jalan dan pilihan yang terbaik nantinya, hanya hitungan minggu lagi saya akan membuat keputusan besar dalam kehidupan saya.

"KEJARLAH ILMU SETINGGI-TINGGINYA"


almasdeo
Karratha (Western Australia) 26.06.2011

Sunday, 12 June 2011

Indahnya Summer

Mungkin bagi kita orang yang hidup dinegara tropis sinar matahari itu sudah sangat biasa banget, sampai terkadang kita mengutuk matahari saking panasnya tu sinar matahari (saya juga kok). Ketika kepanasan pasti otak saya sempet berpikir, enak kali ya klo saya dulu lahir dinegara yang ada saljunya atau minimal mataharinya ga panas" banget lah kaya di Indonesia. Dari sekedar pemikiran, eh ternyata Tuhan ngasih saya kesempatan ngerasain musim dingin di Australia, walaupun ga sampai ada saljunya si.

Dasar emang ya sifat manusia, maunya enakkkkkkk......ketika musim dingin datang, yang ada tu saya selalu merindukan matahari yang terbit untuk menghangatkan bumi. Pemikiran yang awalnya musim dingin itu enak sirna ketika saya ngerasain sendiri musim dingin itu gimana. Ya bayangin aja, kita harus tetap beraktivitas normal tapi suhu udara kisaran 3 derajat setiap harinya. Apalagi ditambah klo ada angin,,,wuihhhhh bukannya seger yang ada mengigil. Belum lagi kulit menjadi kering kerontang kaya sawah kekeringan. Susahnya musim dingin adalah pas malam hari saat mau tidur, udah pakai selimut tebal, kaos kaki, kupluk bahkan electric blanket tetap aja rasanya dingin masih menggoda trus. Klo udah begini yang ada jadi susah tidur semalaman.....(klo ga bayangin, hidup normal tapi di atas gunung...hampir sama lah kondisinya begitu)


Setelah ngerasain musim dingin, menurut saya enakan musim summer kemana". Walaupun summer di sini agak sedikit gila bisa sampai 40 derajat tapi yang pasti banyak kegiatan yang bisa saya lakukan ketika musim summer. Dan pastinya banyak acara yang ngambil sesinya pas musim summer, jadi pasti lebih rame keadaannya dibanding musim winter. Dan yang pasti summer itu memberi banyak pencerahan ke mata saya (kayanya ga perlu dijelaskan lagi ya...hahahaha) 
Ya, Pantai adalah salah satu tempat wajib dikunjungi pada saat summer. Seperti summer tahun ini, saya selalu main ke pantai saat ada hari libur untuk ikut"an bule berjemur (padahal saya udah item, jadi kebayang klo pulang dari pantai pasti hampir 11-12 ma Aborigin). Wuiihhhh pemandangan indahnya pantai benar" keliatan saat begini, di tambah banyaknya bikini" yang berjemur.....ohhhh my GOODNESS.......bener" bikin betah berlama" ria di pantai, tinggal modal kacamata hitam udah deh puas tu seharian cuci mata.

Pengalaman saya yang paling gila saat berkunjung kepantai adalah pas saya nyoba main ke naked beach....hahahaha......pertama kali masuk kawasan pantainya aja udah terasa beda-beda gimana gitu....bermodal nekad karena pingin tahu, gimana si naked beach itu? saya dan teman" pun cuek aja masuk ke pantai itu. Wue...e....e...e... antara takjub, lucu, malu semua bercampur aduk saat dipantai itu. Tapi anehnya beberapa saat rasa malu udah kaya ga ada lagi (mungkin kebawa suasana kali ya), karena saya masih minder saat itu, mending saya lari ke laut dan berendam di situ sambil ngeliat orang" yang benar" bugil...gil...gil....berjemur, main voli dan jalan"........Salut ma bule" deh pokoknya, walaupun mereka udah tua, gemuknya ga karoan tetap aja PEDEnya sejuta di pantai itu. (pede saya aja kalah, walaupun saya masih muda, tampan dan baik hati). Sempet terlintas di pikiran saya saat berendam, coba ada pantai kaya begini di Indonesia, gimana ya jadinya???

Sekarang summer telah berlalu, dan saya pasti merindukannya untuk 6 bulan kedepan. Bersyukurnya saya jadi orang Indonesia karena kita selalu dapat matahari sepanjang tahun, walaupun terkadang panasnya menyebalkan tapi percaya deh klo udah ngerasain musim dingin pasti akan bilang sama seperti saya.

almasdeo
Karratha (Western Australia) 12.06.2011

Thursday, 9 June 2011

Touring dan Snorkling ke Pulau Sempu (Malang)

Jaman kuliah dahulu, Kampus saya sangat terkenal "PELIT" untuk memberi hari libur. Mungkin klo di total setahun libur hanya 4 minggu (itu dah termasuk libur hari keagaamaan). Ya, karena jarang libur saya pun jadi jarang pulang ke Jakarta. Paling" klo ada libur 1-2 hari saya gunakan untuk jalan" di sekitar pulau Jawa, entah itu naik gunung, main ke pantai, atau mengunjungi daerah" yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Masalah uang saya cukup beruntung, karena saya orangnya agak irit buat hidup sehari-hari tapi cukup boros untuk traveling. Jadi uang hidup sebulan di kos udah termanage rapi, 40% buat kehidupan sehari" dan sisanya buat jalan". (mungkin itu alasan kenapa saya kurus)

Libur lebaran (tahun 2008 klo ga salah) jatuh pas hari Sabtu dan Minggu seinget saya, Jadinya cuma dapat libur Jumat, Sabtu, Minggu dan Senin (baik banget kan tu kampus saya...). Pikir" klo pulang harga tiket pasti mahal abis, lagi pula saya sudah ga dapat lagi jatah uang lebaran dari saudara" saya yang merayakan lebaran. Jadi ga ada alasan kuat untuk saya pulang ke Jakarta, saat-saat kaya begini otak saya pasti encer buat mikir mau jalan" kemana yaa??
Beruntungnya saya adalah, teman" yang mempunyai pola pikir kaya saya saat itu ada beberapa. Jadi, kita merencanakan perjalanan touring menggunakan sepeda motor ke "Pulau Sempu" (Malang). Yaa, kami memilih menggunakan sepeda motor karena ingin merasakan rasanya (susah amat ya bahasanya) orang" yang pulang kampung naik motor dan saat itu momentnya pas banget, selain karena kita emang punyanya cuma motor si...

Setelah semua sudah siap, kira" jam 6 sore kita pun berangkat dari Solo. Ada 5 motor dan semua motor ada teman boncengannya. Apesnya saya, partner saya cewek jadi sudah bisa di duga dari sebelum berangkat pasti saya yang nyetir pulang-pergi (makasih bangetttttt). Ini merupakan pengalaman Touring pertama saya, 2 jam pertama masih oke lah....pantat masih terasa pantat, mata masih seseger liat cewek di pantai dan teman belakang saya masih berkicau bak burung dipagi hari (ya, saya mengharuskan dia ngomong apa aja biar saya ga ngantuk). Perjalanan agak menyenangkan karena malam ini merupakan malam takbiran, jadi jalanan agak rame dengan pawai" menyambut hari raya Lebaran. Tapi sesudah di atas jam 1 malam....aahhhhhhhh........Ketika pantat ini udah mulai protes ke otak karena kelamaan duduk, mata juga sudah perlu di ganjel supaya ga merem saya harus tetep konsen nyetir motor dan mengejar untuk sampai tidak terlalu siang. Dashyatnya saya, saat itu saya terkadang (sering kayanya) nyetir sambil tertidur. Sampai teman yang dilain motor aja takut saya celaka karena tertidur. (mungkin Tuhan masih menyuruh saya banyak bertobat, sehingga dia melindungi saya sampai tempat dengan selamat) 

Saat ngantuk" gini dan masih harus nyetir emang pas buat ngetes seberapa batas kesabaran orang. Makanya saya senang dengan sebuah perjalanan (apapun perjalanan itu), karena di dalam perjalanan banyak proses" yang membuat saya menjadi lebih berkembang di semua aspek (walaupun kadang" saya gagal....hahaha). Pikiran saya saat itu hanya, JAUH AMAT SI NI TEMPAT, NGGA NYAMPE"....
Yuhuuu......AKHIRNYA NYAMPE JUGA, ya jam 6 Pagi kita telah sampai di Pantai (Klo mau ke Pulau sempu kita harus nyebrang 30 menit menggunakan kapal penduduk setempat). Hal yang pertama saya lakukan setelah sampai adalah langsung berdiri dan mengelus-elus pantat saya yang telah protes 12 jam duduk nonstop di jok motor. Pengalaman pertama touring langsung 12 jam membuat saya agak kapok.....badan rasanya ga karuan pegelnya, entah berapa banyak saat perjalanan saya minum TO**K AN**N (ga boleh nyebut merek) biar ga masuk angin. Betapa hebatnya ya, panggilan kampung halaman kepada para penggembara untuk kembali ke kampung halamanannya walaupun memerlukan pengorbanan puluhan jam untuk sampai, pikir saya saat itu. 

Setelah kita beristirahat dan mendapatkan penduduk setempat yang kita sewa kapalnya untuk menuju Pulau Sempu, kita pun bersiap untuk menyebrang. Akhirnya setelah 30 menit di atas perahu, kita pun sampai juga di pulau Sempu. Ohhhh jangan senang dulu, kita masih harus trekking kurang lebih 30 menit (memang klo mau ketempat yang bagus bener" harus banyak berkorban). Oh ya Sebelumnya kita sudah di beri no HP sama pemilik perahu, jadi klo ntar mau pulang tinggal di telpon dianya.(itulah enaknya traveling jaman sekarang). Karena di pulau agak susah mendapatkan air bersih jadi kita membawa 2 galon air A**A (ga boleh nyebut merek lagi) untuk minum 10 orang selama 2 hari 1 malam di sana. Pasti kebayang kan, beratnya bawa galon selama trekking.....Untungnya saat itu banyak orang yang lebih gede badannya dan bersedia membawakannya.....huhhh senangnya saya....hahahaha....

wowww........sadissss kerennnn bangetttttt........kata" pertama yang keluar dari mulut saya pas nyampe ke lokasinya. Jadi di tengah pulau ini ada LAGUNAnya beserta pasir putihnya yang bersih...sih...sih.....air laut masuk dari karang yang bolong, sehingga air di laguna itu ngikutin pasang surutnya air laut. (semoga bisa membayangkan). Capek, letih, lelah seketika hilang klo udah ngeliat alam yg indah begini. Sehabis menaruh perlengkapan dan mendirikan tenda, langsung jiwa beach boy saya keluar, lari-larian, main pasir dan pastinya nyobain "SNORKLING" untuk pertama kalinya dalam hidup ini.
Sempat dag...dig,,,dug... juga, karena saya tidak terlalu jago berenang dan kedalamana pas pasang bisa sampai 3 meter. Karena rasa penasaran begitu besar untuk menyoba snorkling (klo tenggelam paling ada yg nolong), saya cuek aja dengan modal snorkel sama google saya mulai mencoba. Pertama-tama memang susah, karena kita sudah terbiasa bernapas dengan hidung dan saat kita snorkling mau ga mau kita harus menggunakan mulut untuk bernpas yaaaa, dikit banyak minum air laut lah untuk amatiran kaya saya saat itu. Dan yang paling ngga enak adalah kepala saya cepat pusing karena asupan oksigen ke otak tidak terlalu bagus (masih proses adaptasi mungkin). Setelah mulai terbiasa bernapas dengan snorkel saya berenang kesana kemari sambil melihat ikan" kecil berenang di antara terumbu karang yang menurut saya masih alami disana. Hebatnya saya berani sampai jauh ber-snorkling dan saya bisa ngambang looo (mungkin karena air laut kali ya). Wuiihhhh pengalaman yang benar" indah, ternyata alam bawah laut juga menyimpan sejuta rahasian di dalamnya, mulai dari situ saya jadi senang snorkling walaupun sesudahnya kulit saya menjadi agak hitam si....tapi biarlah ntar juga kembali ke asalnya.

Sesudah puas snorkling dan eksplore pulau Sempu, keesokan harinya kita kembali ke malang untuk bermalam 1 malam lagi sebelum kembali ke solo, Oh ya.....menurut cerita penduduk local, villa yang kita tempati itu tetangga dari rumah dr. Azari (klo ga salah, teroris yang di tembak di Malang-Batu).

"Untuk melakukan hal yang pertama kali kita lakukan memang berat untuk langkah pertamanya, tetapi selanjutnya akan bergerak dan berjalan dengan sendirinya"


almasdeo
Karratha (Western Australia) 10.06.2011